SEJarahKoe
Thursday, September 28th, 2006
<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P.sdfootnote { margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in; margin-bottom: 0in; font-size: 10pt }
P { margin-bottom: 0.08in }
A.sdfootnoteanc { font-size: 57% }
–>
Makalah
Sejarah
SEPAK
TERJANG NICCOLO ATTAR DI DUNIA
Oleh
: Niccolo Attar
-
Pendahuluan
Latar
Belakang
Sejarah dalam bahasa Inggris disebut dengan history yang
berasal dari bahasa Yunani kuno historia yang berarti
penyelidikan. Menurut Muhd. Yusof Ibrahim1
sejarah adalah catatan atau rekaman peristiwa yang terjadi di masa
lampau. Jadi dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah peristiwa yang
terjadi dimasa lalu yang dapat diselidiki atau dipelajari dengan
catatan-catatan atau rekaman yang ada. Memang semua peristiwa yang
terjadi di masa lampau tidak dapat dikatakan sebagai sejarah. Karena
suatu peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah apabila terdapat
kebenaran fakta yang tepat. Fakta-fakta tersebut dapat kita cari pada
sumber-sumber sejarah. Sejarah juga harus memiliki kesan yang
bermakna serta mempunyai sebab akibat yang berkaitan.
Karena sejarah merupakan suatu peristiwa di masa lampau yang harus
memiliki kesan yang bermakna. Maka patutlah peristiwa tersebut kita
tuliskan atau kita rekam dengan suatu media yang dapat menceritakan
kembali peristiwa tersebut dengan lengkap dan konkrit. Hal tersebut
dimaksudkan untuk meneruskan fakta yang sebenarnya terjadi di masa
lampau agar tidak terjadi penyimpangan. Atau juga dapat dijadikan
suatu pelajaran bagi orang-orang di masa mendatang untuk melihat
kesalahan-kesalahan atau suatu pencapaian pada masa lampau. Sejarah
mampu memberikan kesan emosional bagi orang yang mengetahuinya.
Sejarah mengenai diri pribadi seseorang yang kurang dikenal mungkin
dapat dikatakan tidak memiliki suatu kesan yang berarti buat sebagian
besar orang. Namun bagi pribadi tersebut, sejarah mengenai dirinya
akan sangat berarti sekali. Sejarah yang menceritakan asal-usulnya,
perjalanan hidupnya, kemalangan-kemalangan yang menimpanya, kenangan
indahnya, serta pencapaian hidupnya. Hal ini menjadi penting bagi
pribadi tersebut karena rekaman mengenai sejarahnya dapat
menceritakan kembali dirinya kepada keturunannya secara utuh walaupun
dia sudah meninggal.
Jadi tidak ada salahnya bila kita mulai menuliskan sejarah mengenai
diri kita sendiri. Kita dapat memulai dari asal usul atau silsilah
kita, dan diakhiri sampai dengan pencapaian yang telah kita dapatkan
hingga saat ini. Dalam makalah ini penulis akan mengisahkan
sejarahnya sendiri. Tujuannya agar para pembaca dapat mengenal lebih
baik tentang sosok penulis.
-
Pembahasan
a. Keluarga
Seperti yang tertulis dalam akta kelahiran catatan sipil, Niccolo
Attar lahir pada tanggal 4 Juni 1988, di Banda Aceh, Nanggroe Aceh
Darussalam dari pasangan Drs. Otto Nur Abdullah M.Si dan Dra. Dyah
Rahmani Purnomowati M.Si. sebagai anak sulung, Niccolo Attar hingga
ketika berumur 18 tahun memiliki empat orang adik. Mereka bernama
Dyra Fatima yang sudah menginjak bangku kelas 3 SMA di Jakarta, Gagas
Bonang yang telah kelas 2 SMA di Solo, Fata Hanifa yang kni di kelas
2 SMP di Solo, dan yang terakhir Riska Aulia yang masih kelas 5 SD di
Solo.
Keluarga Niccolo Attar memiliki tradisi sebagai pendidik. Keluarga
dari ayah yaitu kakek yang bernama Syamsudin adalah seorang dosen di
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh bahkan pernah menjabat sebagai
Kepala Kantor Departemen Pendidikan D.I Aceh. sedangkan Nenek yang
bernama Sri Rembuni menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama dan
Sekolah Menengah Atas di Banda Aceh serta pernah menjadi kepala
sekolah di SMPN 6 Banda Aceh. Dari pihak ibu, Kakek yang bernama
Soeharso adalah seorang pengajar di SMP 1 Muhammadiyah Solo dan juga
Dosen di Universitas Muhammadiyah Solo, sedangkan nenek yang bernama
Siti Fathonah adalah guru di sebuah Taman Kanak-kanak di Solo.
Kedua
orang tua Niccolo Attar juga menjadi Dosen di Universitas Syiah Kuala
Banda Aceh. Ayah menjadi tenaga pengajar di Fakultas Pertanian dan
Ibu mengajar di Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan. Sebenarnya
bidang yang diampu oleh orangtua Niccolo kurang sesuai dengan
pendidikan yang dienyam saat memperoleh gelar S1 dan S2 dahulu. Gelar
S1 mereka didapat dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, sedangkan Gelar S2 Ayah dan Ibu Niccolo didapat dari
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM jurusan Sosiologi dan
Fakultas Geografi UGM jurusan Kependudukan.
Selain
menjadi dosen kedua orang tua Niccolo juga aktif dalam Non Goverment
Organization. Otto Nur Abdullah mendirikan sebuah LSM yang bernama
CORDOVA pada tahun 1990 yang bergerak di bidang pemberdayaan
mayarakat dan ibu ikut menjadi staf dalam organisasi tersebut.
Keduanya juga gencar dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia di Aceh.
Ayah dan Ibu Niccolo juga telah menulis beberapa judul buku yang
berisi mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh.
Saking
gencarnya mengkritik pemerintah tentang pelanggaran HAM yang terjadi
di Aceh. Sang ayah sempat menjadi target operasi diwaktu itu. Ketika
itu banyak aktivis HAM yang ditangkapi ataupun dibunuh, tanpa
diketahui siapa yang membunuh mereka. Namun ayahnya sempat
menyelamatkan diri ke Amerika Serikat pada tahun 2000 selama satu
tahun. Akhirnya ayahnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta agar lebih
dekat dengan keluarga. Karena jarak Jakarta dengan Aceh ternyata
sangat jauh, sehingga keluarga yang ditinggalkan di Aceh akan
kesulitan bila ingin bertemu. Maka ibunya memutuskan untuk
melanjutkan studi S3 di UGM agar memiliki alasan untuk tinggal di
Jawa. Setelah itulah Niccolo Attar dan keluarga mulai tinggal di Jawa
tepatnya di Jalan Dempo Dalam 5 Perumnas Mojosongo, Solo.
b. Perjalanan Hidup
1. Masa Balita
Masa Balita Niccolo Attar sempat dihabiskan selama dua tahun di
Yogyakarta. Ketika itu kedua orangtuanya sedang melanjutkan studi S2
di UGM. Niccolo juga sempat duduk di bangku Taman Kanak-kanak di
daerah Bulak Sumur selama satu tahun. Setelah menginjak umur 4 tahun,
ayahnya membawanya ke Banda Aceh untuk diurus oleh nenek. Waktu itu
Niccolo sudah memiliki dua orang adik, sehingga orangtuanya kerepotan
dalam mengurus.
Di
Banda Aceh Niccolo Attar tinggal bersama keluarga besar ayahnya.
Dalam satu rumah ia tinggal bersama Nenek, Paman, Bibi, dan beberapa
kerabat dari kampung. Neneknya pun menyekolahkannya di TK yang dekat
dengan tempat kerja nenek agar mudah mengawasinya. Ketika itu
neneknya menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 6, di daerah
Lampineung, Banda Aceh.
2. Masa kanak-kanak
Ketika lulus dari TK Niccolo Attar melanjutkan sekolah ke SD Negeri
69 yang terletak tidak begitu jauh dari rumah. Di kelas satu SD
Niccolo belum memiliki teman, ini dikarenakan dia memang kurang
pergaulan. Baru ketika kelas 2 mulai banyak teman yang mendekatinya,
mungkin karena ia termasuk anak yang pintar di kelas. Saat liburan
kenaikan kelas 4 Niccolo mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulah
paha kanannya patah. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia mengalami
kecelakaan. Dulu, waktu masih di kelas 2, ia juga pernah terserempet
mobil labi-labi atau di Jawa disebut angkot atau angkuta, namun tidak
menyebabkan cidera yang parah. Ketika hendak dioperasi ayahnya
menolak, karena tidak tega. Akhirnya ia dibawa ke dukun tulang yang
juga orangtua dari si penabrak.
Niccolo Attar juga sempat menjadi anggota team drum band SD, ketika
itu ia duduk di kelas 5. Tetapi hal itu dilakukannya hanya sebentar
saja. Setelah tiga bulan, ia dan beberapa teman diminta kakak-kakak
mahasiswa untuk menjadi objek ujian praktek mereka. Ia dan
teman-teman diajari menari oleh kakak-kakak mahasiswa itu. Masih di
Kelas 5, Niccolo diikutkan lomba mata pelajaran IPA tingkat rayon,
namun hanya mendapat peringkat 2, karena kalah dalam soal praktek.
Selepas
SD, Niccolo melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 6 Banda Aceh, karena
memang lebih mudah masuknya. Sebab Walaupun sudah pensiun, nenek
masih memiliki pengaruh yang cukup kuat. Dan memang hal itu sangat
terasa sekali. Niccolo sering diberi nilai bagus untuk beberapa mata
pelajaran yang gurunya kenal baik dengan neneknya. Hingga ketika di
kelas 1, Niccolo langganan juara kelas. Namun ketika naik kelas 2 ia
bergabung di kelas pararel dengan juara kelas lainnya yang membuat
dirinya tidak lagi bisa menjadi juara kelas, bahkan untuk meraih
posisi sepuluh besarpun menjadi sulit.
Masa
kelas 2 di SMP Negeri 6 Banda Aceh hanya dialaminya selama dua
caturwulan atau kurang lebih 8 bulan. Setelah itu ia harus
meninggalkan Aceh menuju Solo, karena situasi kemanan yang memaksanya
mengungsi ke Pulau Jawa. Dan di Jawa ia melanjutkan sekolahnya di SMP
Negeri 7 Surakarta, yang dulu juga merupakan sekolah ibunya. Disana
ia baru merasakan bahwa dirinya benar-benar tertinggal dengan
teman-temannya yang lain, sehingga membuatnya minder dan ingin
berusaha mengejar ketertinggalannya. Baru ketika ia berada di kelas
3, ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pelajaran.
Akhirnya Niccolo pun lulus dengan nilai yang pas-pasan saja.
3. Masa Remaja
Tanpa mengetahui hendak melanjutkan studi ke mana, karena memang ia
belum mengenal dengan baik SMA-SMA yang ada di Solo, ia mencoba
mendaftar di SMA Negeri 5 Surakarta yang tak jauh dari SMPnya dulu.
Dan ternyata ia diterima, walaupun ia tidak pernah mengontrol jurnal
penerimaan siswa baru.
Ketika
memasuki gerbang SMA, ia memiliki tekad bahwa dirinya harus menjadi
orang yang terkenal di seantero SMA Negeri 5 Surakarta. Dan Dengan
Tekad yang keras itu, ia berusaha mewujudkannya dengan cara banyak
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler baik yang ada di sekolah maupun
yang ada di luar sekolah. Yang pertama dicobanya adalah mengikuti
seleksi Pasukan Inti atau Paskibra sekolah. Namun setelah mengikuti
latihan selam dua minggu penuh, dengan hanya sekali absent ia tidak
diterima. Hai itu membuat dirinya dendam dan benci kepada Pasukan
Inti. Ia merasa dicurangi dan Pasukan Inti dirasakan tidak adil dalam
menyeleksi anggota baru. Sebab, ada seorang anak yang hanya mengikuti
latihan selama tiga hari terakhir dan anak itu diterima. Pastilah itu
disebabkan karena adanya kolusi diantara mereka.
Dengan
semangat yang membara untuk membalaskan dendamnya, Niccolo pun
mencoba mengikuti ekstrakurikuler yang lain. Diantaranya yaitu Bahasa
Jepang, ia hanya ikut beberapa kali pertemuan karena jadwal ektra
tersebut bertabrakan dengan kegiatan lain yang lebih diminatinya.
Niccolo juga mencoba ikut ekstra teater itu juga hanya beberapa bulan
saja, karena di ektra tersebut dia hanya satu-satunya laki-laki dan
lainnya cewek semua dan ketika pemilihan pengurus, ia tidak mendapat
jabatan strategis, kepengurusan semua dipegang oleh cewek. Harga diri
sebagai seorang laki-laki membuatnya meninggalkan kegiatan tersebut.
Kemudian
Niccolo diajak oleh temannya yang bernama Imanusrin Busyairi Muslim
untuk mengikuti kegiatan Kepramukaan. Sebenarnya Niccolo juga agak
kurang berminat untuk ikut Pramuka, sebab ketika di bangku SD ia
pernah ikut kegiatan tersebut, dan ia paling takut bila sudah bertemu
semaphore atau morse. Melihat peluang yang cukup besar untuk
mengembangkan diri di Pramuka, ia pun mengikuti ajakan temannya
tersebut. Memang benar ada kesempatan mengembangkan diri di Pramuka.
Pada
tanggal 20 November 2003, untuk pertama kali Niccolo mengalami yang
namanya gojlokan, bahkan ia sempat menangis. Bukan karena takut
dengan para seniornya, tapi lebih karena ia merasa disudutkan oleh
senior yang juga adalah senior dari Pasukan Inti yang dibencinya.
Semua tantangan itu membuatnya lebih berani dan lebih tegas dalam
bertindak. Mentalnya pun diasah melalui lomba Pramuka yang diadakan
Racana Adi Unggul Bhirawa Surakarta pada tanggal 20-21 Februari 2004.
memang saat itu teamnya kalah, yang akhirnya membuatnya bertekad
untuk membalas kekalahan tersebut pada kesempatan berikutnya.
Ketika
liburan tengah semester kedua kelas satu atau pada tangga 9-14 April
2004 Niccolo mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Unit Bantu
Pertolongan Pramuka (UBALOKA) yaitu semacam Team SAR bagi Pramuka
plus Unit Kegiatan Khusus (UKK) atau juga Pasukan Khususnya Pramuka
di Tingkat Cabang Kota Surakarta. Diklat saat itu memang keras,
karena sudah terbina mentalnya, ia menghadapinya dengan tenang-tenang
saja. Niccolo memiliki prinsip bahwa tak apalah kita berada di
belakang, yang penting bukan yang paling belakang. Jadi ia lega bahwa
walaupun tubuhnya kecil namun ia masih lebih kuat dari beberapa
temannya yang menyerah pada waktu itu.
Tidak
hanya berhenti sampai disitu. Niccolo juga mengikuti Gladi Tangguh
Instruktur Muda Teknik Kepramukaan (GIM Tekpram) di Universitas
Sebelas Maret Solo pada tanggal 4-6 Mei 2004. Sebenarnya ia tidak
ingin mengikuti kegiatan tersebut, karena sudah kelelahan mengikuti
Diklat UBALOKA dan UKK. Ia terpaksa ikut karena temannya yang bernama
Imanusrin tersebut mengira bahwa satu sekolah harus memiliki
pasangan, dan kala itu hanya dia yang laki-laki wakil dari sekolahan.
Dan karena hanya Niccolo lah yang paling siap untuk digembleng,
temannya memohon padanya untuk ikut.
Menginjak
kelas 2 SMA pun Niccolo masih sibuk berorganisasi, bahkan menjadi
lebih sibuk karena ia mulai menjadi pengurus di beberapa organisasi.
Di Dewan Ambalan Pramuka Niccolo menjabat sebagai Pemangku Adat, yang
benar-benar sibuk mengurusi kegiatan karena sebagian besar kegiatan
Pramuka berkaitan dengan adat. Menjelang Pemilihan Ketua OSIS pada
sekitar bulan November 2004, Niccolo mengajukan diri menjadi calon
ketua OSIA. Karena pidatonya kurang meyakinkan MPK, maka ia tidak
terjaring sebagai calon ketua OSIS. Tetapi karena melihat kinerjanya
di Pramuka, MPK mempercayakannya menjadi Ketua Seksi Pengembangan
Kepemimpinan dan Berorganisasi di OSIS. Merasa tidak memiliki
kekuatan dalam OSIS, Niccolo menjadi tidak bersemangat dalam
berorganisasi di OSIS, ia hanya datang, duduk, dengar tanpa melakukan
sesuatu apapun buat OSIS.
Bersama
teman-temannya Niccolo mencoba membangkitkan kembali Patroli Keamanan
Sekolah SMA Negeri 5 Surakarta yang sudah lama mati. Mulai dari
mengumpulkan para perintis, sampai melaksanakan Diklat. Namun ketika
pemilihan pengurus Niccolo hanya menjabat sebagai Ketua Seksi
Penelitian Pengembangan dan Evaluasi. Merasa kurang punya kekuatan di
PKS, dan ternyata ketua terpilih memiliki pikiran yang tidak sejalan
dengan pikiran Niccolo dan beberapa temannya yang lain. Sehingga
Niccolo memilih vakum dan hanya muncul bila ada hajatan besar.
Sempat
juga Niccolo mengikuti lomba. Diantaranya, Lomba Karya Tulis Ilmiah
tingkat Daerah Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Universitas
Muhammadiyah Surakarta walaupun hanya masuk 10 besar dari 11 peserta.
Yang paling membanggakan adalah ketika Niccolo dan teman-temannya
berhasil meraih juara I lomba PBB yang diadakan Racana AUB Surakarta.
Hal itu menjadi suatu pembalasan terhadap Pasukan Inti yang dulu
menolaknya, karena waktu itu Pasukan Inti juga mengikuti lomba PBB
tingkat Kota Surakarta namun gagal meraih juara. Padahal Pasukan Inti
selalu mendengung-dengungkan kebesaran mereka di Kota Surakarta.
Kegiatan
berorganisasi Niccolo belum juga berhenti ketika telah duduk di kelas
3 SMA. Pada awal semester ia masih mengikuti lomba Lintas Alam PMR
tingkat kota Surakarta, meski ia bukan anggota PMR. Tugasnya hanyalah
menjadi mata-mata untuk memuluskan tim inti yang akhirnya menjadi
juara umum. Selain itu ia juga masih membimbing junior-juniornya di
Pramuka dan PKS. Niccolo baru mulai mengurangi kegiatan sejak
semester dua.
Untuk
bidang akademik Niccolo tidaklah menonjol. Ketika di kelas I nilai
ulangan matematika tidak pernah melebihi angka 5, ulangan kimia
rata-rata 5,5, ulangan fisika hanya sekali medapatkan nilai 9,9,
selain itu tidak kurang dari 5,5. di kelas II ia juga mengalami nasib
yang serupa. Mungkin semua itu karena ia tidak bisa membagi waktu
antara berorganisasi dan pelajaran. Niccolo banyak menghabiskan jam
pelajaran di luar kelas. Seringkali ia hanya tidur-tiduran di Sanggar
Pramuka hanya untuk menghindari pelajaran Matematika, atau Fisika.
Niccolo memanfaatkan keaktivisannya untuk meminta surat izin keluar
kelas padahal itu hanya untuk menghindari pelajaran. Baru ketika
kelas III Niccolo mulai masuk dalam daftar anak pintar di kelas.
Semester satu dan dua ia masuk ke dalam 5 besar. Namun mungkin itu
juga hanya karena simpati guru-guru yang melihat ia selalu
mengerjakan perintah dari guru-guru, seperti menghapus papan tulis,
mengambilkan buku tugas di meja guru, mengambil OHP di kantor, sampai
mengisikan spidol. Padahal sehari-harinya ia sering tidur ketika
pelajaran dan ia jarang sekali mencatan pelajaran bahkan ia sering
tidak mengerjakan tugas.
Untuk soal pacaran, Niccolo baru sekali mengalaminya. Karena ia
memang orang yang pemalu, apalagi ketika berhadapan dengan cewek yang
disukainya. Niccolo berhasil mendapatkan pacar pertamanya karena
dicomblangin oleh sahabatnya. Niccolo dan pacarnya resmi jadian pada
tanggal 11 Maret 2005 yang juga merupakan hari ulangtahun sang
kekasih. Ketika itu hari Jumat, mereka baru saja selesai latihan
rafling di Jurug Solo. Hari gerimis ketika Niccolo menembak pujaan
hatinya. Memang berhasil walaupun merayu dengan cukup lama. Minggu
kedua mereka pacaran, sang kekasih meminta Niccolo untuk membuktikan
cintanya. Ia meminta Niccolo memberikannya tiga mawar merah yang
masih kuncup di dalam bingkai yang harus dikerjakannya sendiri, dan
Niccolo diminta mengucapkan kata “aku cinta padamu” sebanyak 11
kali. Dan permintaan pun terpenuhi, Niccolo berhasil membuktikan
cintanya.
Selang
satu bulan, akhirnya sang kekasih mengaku bahwa pada awalnya ia
terpaksa menerima Niccolo sebab ia dipaksa oleh makcomlang yang juga
sahabatnya, maka itu ia meminta pembuktian dari Niccolo. Betapa
hancur hati Niccolo, tetapi sang kekasih juga mengatakan bahwa ia
akhirnya jatuh cinta betulan kepada Niccolo. Selang beberapa minggu,
sang kekasih mulai agak menjaga jarak dengan Niccolo, entah mengapa.
Dan akhirnya hubungan mereka makin renggang, ditambah lagi ada orang
ketiga yang mengganggu hubungan mereka. Akhirnya merekapun putus
secara damai pada tanggal 20 Agustus 2005.
III.
Penutup
a.
Kesimpulan
Sejarah pribadi seseorang akan menjadi suatu kenangan yang berkesan
dan menarik bagi sang pelaku. Namun belum tentu menjadi menarik bagi
sebagian banyak orang. Sejarah tentang pencapaian dan kisah-kisah
sedih akan lebih banyak diingat, karena memang itu merupakan suatu
peristiwa yang paling membekas bagi pribadi tersebut.
b.
Saran
Sebaiknya kita menengok sejarah bukan untuk bereuforia terhadap
hal-hal yang terjadi di masa lampau. Tapi lebih untuk mempelajari
kasalahan-kesalahan dan pencapaian-pencapaian di masa lalu, agar kita
dapat menghindari kesalahan-kesalahan tersebut dan mengulangi
pencapaian-pencapaian tersebut.
1
Pengertian Sejarah, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia